Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (FK UPI) menyelenggarakan Pelatihan Tutor Problem-Based Learning (PBL) pada tanggal 8 dan 15 Agustus 2026. Kegiatan ini diinisiasi oleh Medical Education Unit (MEU) FK UPI yang dipimpin oleh dr. Iswandy Janetputra Turu’ Allo. Pelatihan ini berlangsung menggunakan metode bauran, yakni secara daring pada minggu pertama dan dilanjutkan secara luring di kampus FK UPI pada minggu berikutnya.
Selain diikuti oleh jajaran tenaga pendidik FK UPI, kegiatan akademik ini juga melibatkan perwakilan dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan (Unpas), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan President University. Pelatihan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan keterampilan staf pengajar dalam memfasilitasi metode pembelajaran PBL.
Prof. Hamidie Ronald, selaku Dekan FK UPI, menyatakan bahwa institusi saat ini tengah mempersiapkan diri untuk menyambut mahasiswa angkatan keempat. Selain itu, FK UPI juga membuka satu kelas kerja sama khusus untuk membina mahasiswa dari Kabupaten Mappi, Papua.
“Tantangan tentu saja akan selalu hadir dalam proses kita menciptakan dokter-dokter lulusan FK UPI,” papar Prof. Hamidie Ronald. Keberagaman latar belakang mahasiswa menuntut para tutor untuk memiliki kemampuan fasilitasi yang adaptif dan terstruktur.
Menggeser Paradigma: Dari Penceramah Menjadi Fasilitator
Pelatihan ini menghadirkan tiga pakar dari Departemen Pendidikan Kedokteran Universitas Indonesia, yakni Prof. dr. Diantha Soemantri, MMedEd, Ph.D., Dr. dr. Rita Mustika, M.Epid., dan dr. Estefana Felasa, M.Pd.Ked.. Pada sesi pemaparan peran fasilitator, Dr. Rita Mustika menjelaskan perbedaan mendasar antara dosen yang mengajar (lecturer) dan dosen yang memfasilitasi (facilitator).
Fasilitator bertugas membantu kelompok mencapai tujuan pembelajaran dengan memandu proses diskusi, bukan berperan sebagai penyedia konten materi. Dalam PBL, mahasiswa dituntut untuk aktif mencari dan mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri secara mandiri.
Lebih lanjut, Dr. Rita Mustika memaparkan tahapan dinamika kelompok yang secara umum melewati fase forming, storming, norming, performing, dan adjourning. Sepanjang fase tersebut, fasilitator harus mampu mengelola berbagai tipe mahasiswa, termasuk menangani mahasiswa yang terlalu mendominasi, mahasiswa yang pasif (reticent), hingga mahasiswa yang sering datang terlambat.
Membangun Pengetahuan Melalui Small Group Learning
Terkait konsep kelompok kecil, Prof. Diantha Soemantri menekankan bahwa Small Group Learning (SGL) bukanlah versi mini dari sebuah perkuliahan. SGL adalah proses pembentukan pengetahuan baru yang berbasis pada konstruktivisme, di mana mahasiswa harus mengaktifkan pengetahuan awal (prior knowledge) mereka terlebih dahulu.
“PBL by Nature sudah dirancang sedemikian rupa untuk bisa mengaktifkan pembelajaran,” jelas Prof. Diantha Soemantri. Namun, efektivitas metode ini sangat bergantung pada intervensi dan pengawalan dari fasilitator. “Tetapi kalau kita sebagai fasilitator, kemudian tidak melakukan tugas kita, maka proses PBL akan berlalu begitu saja,” tambahnya.
Jumlah anggota kelompok juga memengaruhi efektivitas diskusi. Berdasarkan pemaparan Prof. Diantha, ukuran kelompok yang cukup ideal berkisar antara lima hingga sepuluh mahasiswa. Kendati demikian, keberhasilan diskusi lebih bergantung pada partisipasi aktif seluruh anggota, adanya tugas spesifik yang relevan, serta kemampuan kelompok untuk melakukan refleksi.
Standar Penyusunan Skenario PBL
Kualitas skenario kasus merupakan fondasi dari keberhasilan PBL. Berdasarkan pedoman penyusunan skenario, masalah yang dirancang harus sejalan dengan capaian pembelajaran modul dan relevan dengan konteks profesi medis. Titik awal pembelajaran dalam PBL adalah masalah, bukan teori.
Penyusunan pemicu masalah (trigger) harus memenuhi prinsip 3C3R, yang meliputi Content, Context, Connection, Researching, Reasoning, dan Reflecting. Sebelum digunakan oleh mahasiswa, skenario wajib melalui tahap uji coba (piloting) menggunakan instrumen evaluasi khusus, seperti daftar tilik R2 ICE form. Tujuannya adalah untuk memastikan pemicu masalah memiliki kompleksitas yang tepat, memicu kemandirian belajar, dan mampu mengintegrasikan ilmu dasar dengan masalah klinis.
Melalui pelatihan komprehensif ini, FK UPI terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga standar mutu pendidikan kedokteran, memastikan setiap lulusan memiliki landasan kognitif dan keterampilan pemecahan masalah yang mumpuni.
Kontribusi terhadap SDGs
SDG 3: Good Health and Well-being
Pelatihan tutor PBL secara langsung meningkatkan mutu pendidikan kedokteran di FK UPI. Tutor yang kompeten akan menghasilkan dokter-dokter berkualitas yang siap melayani masyarakat dan menyelesaikan masalah kesehatan secara komprehensif.
SDG 4: Quality Education
Sinergi antar institusi (FK UPI, FK UI, FK Unpas, FK IPB, President University) dalam standarisasi metode pembelajaran kelompok kecil merupakan langkah konkret dalam menjamin kualitas pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif, dan berpusat pada mahasiswa.
Kontributor : Humas FK UPI



