BANDUNG – Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (FK UPI) menyelenggarakan kegiatan Pengimbasan Pelatihan Pembelajaran Transformatif pada Jumat, 17 Juli 2026, bertempat di Ruang Rapat Utama FK UPI, Bandung. Kegiatan yang berlangsung secara hibrida ini diikuti oleh 18 dosen pengajar untuk memperkuat implementasi kurikulum berbasis kompetensi dan merespons arah kebijakan nasional Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Kegiatan pengimbasan ini merupakan bentuk tindak lanjut atas partisipasi delegasi dosen FK UPI pada forum pelatihan tingkat nasional. Kebijakan Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Ditjen Saintek) Kemendiktisaintek tahun 2026 menempatkan Pengembangan Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif sebagai fokus utama. Langkah strategis ini dirancang untuk mengoptimalkan potensi bonus demografi serta meningkatkan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan di tingkat internasional. Berdasarkan data Bappenas tahun 2025, Indeks Pembangunan Manusia (HDI) Indonesia berada pada angka 0,71 dan Indeks Modal Manusia (HCI) sebesar 0,54.
Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan implementasi kurikulum transformatif sebagai bagian dari Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian. Konsep pembelajaran ini merujuk pada kerangka pemikiran Jack Mezirow (2000) dan Patricia Cranton (2006). Pembelajaran transformatif menekankan proses evaluasi, validasi, serta revisi atas kerangka berpikir (mindset) dan kebiasaan berpikir yang selama ini mapan. Berbeda dari informative learning yang berpusat pada pengajar atau formative learning yang menekankan kompetensi prosedural standar, pembelajaran transformatif mengintegrasikan empat pilar UNESCO: Learning to Know, Learning to Do, Learning to Be, dan Learning Together.
Rangkaian Pelaksanaan dan Pemateri Kegiatan
Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan FK UPI, dr. Pipit Pitriani, M.Kes., Ph.D., membuka kegiatan pengimbasan secara resmi pada pukul 13.00 WIB. Acara diawali dengan pendaftaran peserta dan pengondisian ruangan oleh panitia pelaksana pada pukul 12.45 WIB, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu nasional Indonesia Raya. Kegiatan pengimbasan ini menghadirkan empat narasumber yang merupakan delegasi dosen FK UPI dari pelatihan tingkat nasional gelombang pertama dan kedua.
Pada sesi awal, dr. Pipit Pitriani, M.Kes., Ph.D. memaparkan Kebijakan dan Arah Strategis Pembelajaran Transformatif Kemendiktisaintek. Selanjutnya, dr. Fiska Maya Wardhani, M.Biomed. menyampaikan materi mengenai Kerangka Kerja Pembelajaran Transformatif dan Desain Pembelajaran Tingkat Blok. Pemateri ketiga, dr. Nysa Ro Aina Zulfa, M.Epid., membawakan materi Praktik Baik (Best Practice) Merancang Skenario Pembelajaran Berbasis Disorienting Dilemma serta Simulasi Peer Teaching.
Setelah jeda coffee break pada pukul 15.15 WIB, dr. Gita Siti Purnama, Sp.DEV. memberikan pemaparan mengenai Asesmen Pembelajaran Transformatif, yang mencakup Perancangan Rubrik Reflektif dan Form Penilaian Diri. Rangkaian kegiatan diakhiri dengan Sesi Diskusi Panel, Perumusan Tindak Lanjut, dan Penutupan Formal yang dipimpin oleh moderator bersama seluruh dosen peserta pada pukul 16.00 WIB.
Hasil Pemetaan Kurikulum dan Metode Seven Steps
Melalui reviu kurikulum yang dilakukan selama kegiatan, FK UPI mencatat sejumlah capaian substantif. Bidang ilmu kedokteran dinilai memiliki kesiapan yang sangat baik dalam menerapkan model pembelajaran transformatif. Secara de facto, FK UPI telah menjalankan prinsip-prinsip pembelajaran aktif yang terpusat pada mahasiswa (Student-Centered Learning). Metode yang selama ini berjalan mencakup tutorial Problem-Based Learning (PBL), pleno, Medical Skills Program (MSP), Early Clinical Exposure (ECE), dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE).
Tim kurikulum FK UPI berhasil memetakan alur metode Seven Steps (Tujuh Langkah) tutorial yang selama ini berjalan agar selaras dengan empat tahapan operasional pembelajaran transformatif:
- Tahap Pemicu (Trigger / Disorienting Dilemma): Mengakomodasi Step 1 (Klarifikasi istilah), Step 2 (Identifikasi masalah), dan Step 3 (Curah pendapat/brainstorming).
- Tahap Refleksi (Critical Assessment): Mengakomodasi Step 4 (Analisis masalah secara kritis) dan Step 5 (Penentuan tujuan pembelajaran/learning objectives).
- Tahap Aksi (Action Planning & Knowledge Acquisition): Mengakomodasi Step 6 (Belajar mandiri/self-directed learning dan pencarian bukti ilmiah).
- Tahap Integrasi (Reintegration): Mengakomodasi Step 7 (Sintesis hasil belajar mandiri dan berbagi informasi dalam pleno atau diskusi kelompok).
Redesain CPMK dan Formulasi Asesmen Blok
Dalam aspek penyusunan kurikulum, forum menyepakati penyesuaian narasi pada dokumen Rencana Pembelajaran Semester (RPS) tanpa mengubah substansi keilmuan medis. Penyesuaian dilakukan pada tingkat taksonomi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) agar secara eksplisit mencakup kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS), afektif, dan reflektif.
Sebagai contoh konkret, rumusan CPMK lama yang berbunyi “mahasiswa mampu menjelaskan atau mengetahui fisiologi reproduksi” diredesain menjadi rumusan transformatif: “Mampu mengevaluasi perubahan anatomi fisiologi maternal serta menginternalisasi kesadaran pentingnya asuhan kehamilan (Antenatal Care/ANC) yang berpusat pada pasien (Patient-Centered Care) serta merancang modifikasi gaya hidup sehat secara holistik.”
Terkait sistem penilaian, FK UPI menyepakati formulasi pembobotan nilai akhir blok dengan mempertahankan komponen sumatif sebesar 85%. Nilai sumatif ini terdiri atas ujian CBT (UTS dan UAS) serta uji kemampuan klinis OSCE guna menjaga kesiapan mahasiswa menghadapi uji kompetensi nasional (UKMPPD). Sementara itu, komponen formatif proses ditetapkan sebesar 15%, yang bersumber dari penilaian jurnal refleksi tertulis, portofolio terintegrasi akhir blok, simulasi role-play profesionalisme, serta efektivitas harian mahasiswa.
Masukan Pakar dan Evaluasi Kendala Operasional
Kegiatan pengimbasan ini juga membahas masukan penting dari pakar pendidikan kedokteran, Prof. Ardi Findyartini dan Prof. Uwais, yang disampaikan pada forum pelatihan nasional. Kedua pakar menekankan pentingnya mendokumentasikan tahap refleksi dan aksi mahasiswa secara tertulis dan formal. Selain itu, pemicu kasus (trigger case) dalam tutorial disarankan menggunakan media visual inovatif, seperti grafik dinamis pergeseran pola kematian epidemiologi, Peta Kolera John Snow, demonstrasi video, atau skenario klinis kontroversial.
Diskusi interaktif antar dosen turut mengidentifikasi sejumlah kendala operasional yang perlu diantisipasi. Keterbatasan instrumen peer assessment (penilaian antar teman) dan durasi pembelajaran yang padat pada program Medical Skills Program (MSP) menjadi perhatian utama. Sebagai solusi adaptif pada MSP, fakultas merancang penambahan skenario profesionalisme klinis, seperti simulasi interaksi dengan pasien standar yang menolak tindakan medis untuk melatih komunikasi terapeutik.
Tantangan lain yang didiskusikan meliputi penyusunan mekanisme jembatan (bridging) portofolio dari fase sarjana menuju tahap profesi (i-Portfolio bagi dokter muda/Ko-ass), serta tingginya alokasi sumber daya dosen yang dibutuhkan untuk memeriksa jurnal refleksi tertulis mahasiswa secara berkala.
Rencana Tindak Lanjut Akademik
Guna menindaklanjuti hasil kegiatan pengimbasan, FK UPI menetapkan enam langkah strategis:
- Penyesuaian narasi luaran RPS seluruh blok oleh dosen koordinator blok, sesuai arahan Tim Pengembang Kurikulum UPI.
- Penyusunan dan standardisasi borang atau template tertulis evaluasi proses (form refleksi diri dan jurnal refleksi mingguan) oleh Tim Kurikulum FK UPI.
- Perancangan, pengujian, dan validasi instrumen peer assessment mahasiswa oleh Tim Kurikulum FK UPI.
- Penyelenggaraan Rapat Akademik Program Studi guna membahas regulasi teknis pembobotan nilai formatif dan sumatif oleh Ketua Prodi dan Koordinator Akademik.
- Pengembangan stimulus skenario tutorial berbasis media visual inovatif oleh Tim Penyusun Skenario Tutorial untuk semester depan.
- Pendistribusian buku referensi utama dan materi Transformative Learning karya Jack Mezirow kepada seluruh staf dosen oleh dr. Nysa Ro Aina Zulfa, M.Epid.
Melalui langkah-langkah terencana tersebut, FK UPI berkomitmen memperkuat tata kelola akademik dan proses pembelajaran. Implementasi pembelajaran transformatif diharapkan dapat melahirkan lulusan dokter yang tidak hanya unggul secara teknis-medis, melainkan juga memiliki kapasitas refleksi kritis serta sikap profesional yang humanis.
Kontribusi terhadap SDGs
Kegiatan Pengimbasan Pelatihan Pembelajaran Transformatif di FK UPI secara langsung mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), yaitu:
- SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being): Menjamin kualitas pendidikan kedokteran untuk menghasilkan lulusan dokter yang kompeten, humanis, dan berorientasi pada pelayanan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
- SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education): Mengembangkan metode pembelajaran transformatif berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS), asesmen reflektif, serta pembaruan kurikulum pendidikan tinggi yang adaptif terhadap tantangan.
Kontributor : Humas FK UPI







