BANDUNG, FK UPI – Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (FK UPI) menghadirkan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterohepatologi dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), dr. Eka Surya Nugraha, dalam kuliah tamu mata kuliah Gastrointestinal System (GIS) yang diselenggarakan secara daring pada Senin, 8 Juni 2026. Kegiatan ini memberikan wawasan klinis terkini mengenai diagnosis dan tata laksana penyakit saluran empedu serta pankreas kepada mahasiswa FK UPI Angkatan 2024.
Membahas Tantangan Diagnosis Penyakit Saluran Empedu
Dalam pemaparannya, dr. Eka menjelaskan bahwa penyakit pada sistem bilier dan pankreas masih menjadi tantangan dalam praktik klinis karena banyak kondisi memiliki gejala yang serupa. Pasien dengan gangguan saluran empedu umumnya datang dengan keluhan nyeri perut kanan atas, demam, hingga kondisi kuning (ikterus).
Ia mengulas sejumlah kasus yang sering ditemukan, antara lain batu saluran empedu (choledocholithiasis), peradangan saluran empedu (cholangitis), kanker saluran empedu (cholangiocarcinoma), hingga pankreatitis. Menurut data yang dipaparkan dalam kuliah tersebut, sekitar 70–80 persen kasus kolangitis berkaitan dengan keberadaan batu empedu yang menyumbat saluran bilier.
Selain itu, dr. Eka menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala penurunan berat badan yang signifikan pada pasien dengan keluhan kuning karena kondisi tersebut dapat menjadi salah satu indikator adanya keganasan pada sistem hepatobilier.
Mengenal Peran Teknologi ERCP, EUS, dan SpyGlass
Salah satu materi utama yang menarik perhatian mahasiswa adalah pembahasan mengenai perkembangan teknologi diagnostik dan terapeutik di bidang gastroenterologi.
dr. Eka memperkenalkan beberapa prosedur endoskopi modern yang saat ini digunakan dalam penanganan penyakit saluran empedu dan pankreas, antara lain Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP), Endoscopic Ultrasound (EUS), serta teknologi SpyGlass atau kolangioskopi.
Melalui teknologi SpyGlass, dokter dapat melihat langsung kondisi di dalam saluran empedu, melakukan biopsi pada jaringan yang dicurigai sebagai tumor, hingga menghancurkan batu empedu menggunakan energi laser. Teknologi tersebut memberikan visualisasi yang lebih detail sehingga membantu meningkatkan ketepatan diagnosis pada kasus-kasus tertentu.
Dalam pemaparannya, dr. Eka juga menjelaskan bahwa penggunaan teknologi ini memerlukan sumber daya dan biaya yang relatif tinggi karena melibatkan peralatan khusus serta prosedur yang kompleks.
Mahasiswa Mendalami Kompetensi Skrining pada Layanan Primer
Kegiatan yang dipandu oleh dr. Alit dan dr. Pipit tersebut berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Mahasiswa FK UPI Angkatan 2024 aktif mengajukan pertanyaan terkait kompetensi dokter umum dalam melakukan deteksi dini penyakit saluran cerna dan hepatobilier.
Salah satu topik yang dibahas adalah pemanfaatan ultrasonografi (USG) sebagai sarana skrining awal untuk membantu mengidentifikasi batu empedu maupun kelainan organ dalam lainnya.
dr. Eka menjelaskan bahwa dokter umum dapat memanfaatkan kemampuan skrining menggunakan USG untuk mengenali temuan klinis awal. Namun, interpretasi diagnostik dan ekspertise formal tetap menjadi kewenangan dokter spesialis radiologi sesuai kompetensi profesinya.
Menurutnya, kemampuan melakukan skrining awal memiliki peran penting dalam menentukan kebutuhan rujukan pasien ke fasilitas kesehatan dengan layanan yang lebih lengkap sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat dan cepat.
Menghubungkan Pembelajaran Akademik dengan Praktik Klinis
Kuliah tamu ini menjadi bagian dari upaya FK UPI dalam memperkaya pengalaman belajar mahasiswa melalui paparan langsung dari praktisi yang aktif menangani kasus-kasus gastroenterologi di rumah sakit rujukan nasional.
Melalui pembelajaran berbasis kasus dan teknologi terkini, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai perkembangan ilmu kedokteran yang terus bergerak seiring kemajuan teknologi diagnostik dan terapeutik.
Mendukung SDGs Bidang Kesehatan dan Pendidikan
Penyelenggaraan kuliah tamu ini sejalan dengan komitmen FK UPI dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kapasitas calon tenaga kesehatan, serta tujuan ke-4 Pendidikan Berkualitas melalui penyelenggaraan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.
Transfer pengetahuan dari praktisi klinis kepada mahasiswa menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat kualitas pendidikan kedokteran dan meningkatkan kesiapan lulusan dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan di masa depan.
Kontributor : Humas FK UPI/Ramdhan Nugraha



