Dorong Institusionalisasi Kepemimpinan Muda dalam Medical Education 5.0
BANDUNG, FK UPI – Ketua Unit Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (FK UPI), dr. Iswandy Janetputra Turu’ Allo, M.Med.Sci, Sp.JP, FIHA, menjadi salah satu pembicara pada diskusi panel Youth Leader Forum: “Preparing Medical Education 5.0” dalam rangkaian Forum Dekan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) 2026. Forum yang berlangsung sebagai Sesi Paralel 4 ini digelar di Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Dalam forum tersebut, dr. Iswandy hadir mewakili Indonesian Young Health Professionals Society (IYHPS), berdampingan dengan empat narasumber lain: Ketua AIPKI Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K), perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Prof. Dr. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), Subsp.IK(K), Ph.D., Ketua Junior Doctors Network (JDN) PB IDI dr. Farah Primadani Kaurow, Sp.FM, serta Sekretaris Jenderal Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) Muhammad Thoriq. Diskusi panel ini membahas kesiapan pendidikan kedokteran Indonesia dalam menghadapi transformasi Society 5.0 dan Education 5.0, dan pengaplikasiannya dalam Medical Education 5.0 khususnya peran generasi muda di dalamnya.
Tesis Sentral: Generasi Muda sebagai Subjek, Bukan Objek
Mengangkat posisi gandanya sebagai representasi organisasi profesional muda sekaligus pemimpin unit pendidikan kedokteran di fakultas kedokteran yang baru berdiri, dr. Iswandy menyampaikan bahwa Medical Education 5.0 hanya akan terwujud apabila generasi muda, baik mahasiswa, profesional muda, maupun pemimpin institusi muda, disiapkan secara matang sebagai subjek dan pengembang, bukan sekadar objek dari transformasi pendidikan kedokteran.
Ia menekankan bahwa kesiapan tersebut menuntut kesempatan nyata dari institusi, baik di tingkat fakultas dan universitas, maupun di tingkat nasional melalui AIPKI dan pemerintah, untuk melibatkan generasi muda dalam proses penyiapan itu sendiri. Pandangan ini merujuk pada kerangka Meaningful Youth Engagement dari International Federation of Medical Students’ Associations (IFMSA) serta model Students as Partners, yang membedakan peran mahasiswa sebagai representative dan consultant dari peran yang lebih substantif sebagai pedagogical co-designer.
Tiga Mekanisme Konkret untuk Institusionalisasi Kepemimpinan
Menindaklanjuti tesis tersebut, dr. Iswandy memaparkan tiga mekanisme konkret agar kepemimpinan muda tidak bergantung pada individu maupun momentum semata, melainkan melekat pada struktur organisasi: penyediaan kursi tetap (permanent seat) bagi perwakilan muda dalam badan pengambil keputusan, penyusunan dokumen transisi kepemimpinan yang mencatat pengetahuan dan hubungan kelembagaan lintas periode kepengurusan, serta penetapan masa tumpang tindih (overlap period) antara pengurus lama dan baru untuk menjaga kesinambungan program.
Ketiga mekanisme ini, menurutnya, sejalan dengan Rekomendasi Strategis Tindak Lanjut, yakni Institusionalisasi Kepemimpinan, yang menegaskan bahwa kesiapan pendidikan kedokteran 5.0 perlu diukur dari mandat struktural yang melekat pada peran organisasi, bukan sekadar slogan atau semangat sesaat.
FK Baru sebagai Ruang yang Fluid bagi Kepemimpinan Muda
Sebagai Ketua Unit Pendidikan Kedokteran di FK UPI yang baru berdiri, dr. Iswandy turut menyoroti posisi strategis fakultas kedokteran baru dalam ekosistem pendidikan kedokteran nasional. Struktur organisasi yang masih fleksibel di fakultas-fakultas baru, menurutnya, membuka ruang lebih besar bagi pemimpin muda untuk terlibat sejak tahap awal pembentukan kurikulum, asesmen, serta sistem pembelajaran, dibandingkan pada fakultas yang telah mapan dengan struktur yang lebih baku.
Ia menyampaikan bahwa peluang ini perlu diimbangi dengan pelatihan kepemimpinan yang terprogram, mekanisme mendengar dan menindaklanjuti aspirasi mahasiswa maupun dosen muda secara konsisten, serta keterlibatan yang berkelanjutan agar kepemimpinan muda di fakultas baru tumbuh menjadi kapasitas kelembagaan yang matang.
Mendukung Ekosistem Kepemimpinan Muda di Pendidikan Kedokteran
Di penghujung paparannya, dr. Iswandy mengajak seluruh pemangku kepentingan yang hadir dalam forum, mulai dari AIPKI, Dikti, JDN PB IDI, hingga ISMKI, untuk menempatkan tiga mekanisme yang ia usulkan sebagai langkah konkret bersama, bukan tanggung jawab satu pihak semata. Ia menegaskan bahwa IYHPS, sebagai organisasi profesional muda lintas sektor kesehatan, siap menjadi mitra kolaborasi dalam mengawal implementasi institusionalisasi kepemimpinan muda tersebut di berbagai institusi pendidikan kedokteran di Indonesia.
Partisipasi dr. Iswandy dalam Forum Dekan AIPKI 2026 ini menjadi salah satu wujud kontribusi FK UPI dalam wacana nasional pengembangan pendidikan kedokteran, sekaligus penegasan komitmen fakultas dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 Pendidikan Berkualitas, melalui penyiapan kepemimpinan generasi muda sebagai bagian dari pembangunan sistem pendidikan kedokteran yang berkelanjutan.
Kontributor: Humas FK UPI


