BANDUNG – Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (FK UPI) menyelenggarakan Workshop Tata Kelola Penyelenggaraan Pendidikan Profesi Dokter pada Kamis (9/7/2026). Kegiatan ini bertujuan merumuskan peta jalan dan mekanisme koordinasi menjelang masuknya mahasiswa kedokteran angkatan pertama FK UPI ke fase pendidikan profesi pada tahun 2027 mendatang.
Workshop ini menghadirkan jajaran pimpinan dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) sebagai narasumber utama. Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu UPI, Prof. Dr. Vanessa Gaffar, S.E., Ak., MBA., secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pendirian dan pengembangan FK UPI menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melibatkan peran Unpad sebagai institusi pembina.
“Perjalanan mendirikan Fakultas Kedokteran ini mungkin tentang membangun institusi, tetapi perjalanan untuk menyelenggarakan pendidikan profesi dokter adalah tentang membangun kepercayaan masyarakat,” ungkap Prof. Vanessa. Ia juga menekankan perlunya penyesuaian kalender akademik dan pemenuhan standar akreditasi yang ketat dalam mengelola program pendidikan kedokteran.
Kesiapan Institusi Menghadapi Fase Klinik
Dekan FK UPI, Prof. dr. Hamidie Ronald Daniel Ray, M.Pd., Ph.D., menjelaskan bahwa transisi menuju tahap pendidikan profesi menguji kesiapan sistem akademik, kemitraan rumah sakit, hingga pembinaan dosen klinik. FK UPI menerima mahasiswa angkatan pertamanya pada tahun 2023, yang berarti program profesi akan bergulir dalam waktu satu tahun ke depan.
“Bagi sebuah Fakultas Kedokteran yang sedang bertumbuh, memasuki tahap pendidikan profesi bukan hanya kelanjutan akademik, tetapi juga ujian kesiapan institusi. Mutu tata kelola, kemitraan rumah sakit pendidikan, hingga layanan administrasi harus berjalan terpadu,” kata Prof. Hamidie.
Ia menambahkan bahwa kurikulum yang dibangun FK UPI di bawah bimbingan FK Unpad telah diakui secara nasional. Ketua Medical Education Unit (MEU) FK UPI bahkan dijadwalkan menjadi pembicara pada forum Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) tingkat nasional.
Adaptasi Kurikulum Transformatif dan Tantangan Digital
Dekan FK UNPAD, Prof. Dr. Vitriana Biben, dr., Sp.KFR., N.M. (K)., memaparkan materi mengenai isu strategis penyelenggaraan pendidikan profesi. Ia menyoroti pergeseran paradigma kesehatan global, peningkatan kompleksitas penyakit degeneratif, hingga era kecerdasan buatan (AI) yang menuntut adaptasi institusi pendidikan.
Menurut Prof. Fitriana, FK UNPAD telah mengubah metode pembelajarannya menuju Transformative Learning untuk menjawab ekspektasi publik terhadap kompetensi dan empati dokter yang semakin tinggi.
Hal senada disampaikan oleh Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Dokter FK Unpad, Dr. Insi Farisa Desy Arya, dr., M.Si. Ia memaparkan penerapan Longitudinal Integrated Clerkship (LIC) di dalam kerangka Academic Health System (AHS). Metode ini mengganti rotasi klinik sistem blok yang terfragmentasi menjadi sistem pendampingan pasien secara berkelanjutan.
“Mahasiswa belajar lintas disiplin secara simultan dan menjadi bagian dari sistem pelayanan kesehatan. Perubahan LIC bukan hanya pada jadwal, tapi pada relasi mahasiswa dengan pasien, pembimbing, dan sistem pelayanan,” jelas Dr. Inci.
Sinergi Kebijakan dan Tata Kelola Universitas
Keberhasilan pendidikan profesi tidak terlepas dari dukungan operasional dan finansial. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Transformasi Digital, Keuangan, dan Pengelolaan Bisnis UNPAD, Prof. Dr. Maman Setiawan, SE., MT. membagikan pengalaman mengenai peran universitas dalam menyokong kebutuhan pendidikan medis.
Prof. Maman menyatakan bahwa Fakultas Kedokteran menuntut investasi Sumber Daya Manusia (SDM) dan fasilitas pendukung yang besar. Ekosistem SDM di FK UNPAD melibatkan ratusan dosen dengan berbagai status kepegawaian. Pihak universitas mendukung kelancaran administrasi melalui integrasi sistem digital, evaluasi kinerja, hingga alokasi anggaran yang sesuai dengan kebutuhan khas proses bisnis kedokteran.
Melalui workshop ini, FK UPI terus melakukan penyesuaian tata kelola secara komprehensif. Koordinasi antara fakultas, rektorat, unit penjaminan mutu, hingga jejaring wahana pendidikan terus diperkuat agar lulusan yang dihasilkan memiliki kompetensi klinis yang presisi dan beretika.
Kontribusi terhadap SDGs
- SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Tata kelola pendidikan profesi ini berfokus pada keselamatan pasien dan pembentukan tenaga medis yang kompeten dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat, baik di tingkat layanan primer maupun rujukan lanjutan.
- SDG 4 (Pendidikan Bermutu): FK UPI berkomitmen memenuhi standar akreditasi pendidikan kedokteran dan mengadaptasi kurikulum Transformative Learning untuk menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap kemajuan teknologi kesehatan.
- SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): Penyelenggaraan kegiatan ini menunjukkan sinergi antar perguruan tinggi (UPI dan Unpad) serta kesiapan membangun kemitraan kolaboratif dengan jaringan wahana klinik dan rumah sakit pendidikan.
Kontributor : Humas FK UPI








