BANDUNG – Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (FK UPI) membahas integrasi Health Informatics Teaching Modules ke dalam kurikulum pendidikan dokter melalui diskusi akademik yang digelar di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung FK UPI, Selasa (3/2/2026). Dekan FK UPI, Prof. dr. Hamidie Ronald Daniel Ray, memimpin langsung pertemuan tersebut bersama pimpinan fakultas dan perwakilan unit terkait.
Dalam diskusi ini, pimpinan FK UPI menekankan pentingnya penguatan kompetensi informatika kesehatan seiring meningkatnya peran data dalam praktik kedokteran modern. Fakultas menempatkan health informatics sebagai bagian dari penyesuaian kurikulum untuk menjawab kebutuhan sistem pelayanan kesehatan berbasis teknologi.
Pemanfaatan Data Kesehatan dan Perspektif Internasional
Pada sesi diskusi, Prof. Edi Nuryatno memaparkan pengalaman penerapan sistem data kesehatan di Australia yang telah berjalan lebih dari satu dekade. Ia menjelaskan pemanfaatan data klinis berskala besar untuk mendukung analisis teknologi diagnosis, termasuk pada studi kasus melanoma, tanpa mengungkapkan data individual pasien.
Paparan tersebut memberikan gambaran konkret tentang penerapan pendekatan kedokteran berbasis data (data-driven medicine) yang relevan untuk pengembangan pembelajaran kedokteran di FK UPI.
Arah Pengembangan dan Struktur Kurikulum
FK UPI merancang penyesuaian kurikulum dengan memasukkan beberapa area fokus, yaitu:
- Health Informatics
- Digital Health
- Lifestyle Medicine
- Workplace Medicine
dr. Iswandy menjelaskan bahwa struktur kurikulum FK UPI mendukung penguasaan kompetensi tersebut secara bertahap. Mahasiswa mempelajari dasar keilmuan pada semester 1–2 (Basic Science), menerapkan pendekatan sistemik pada semester 3–7, serta memperdalamnya melalui mata kuliah elektif pada semester 8 sebagai penguatan sebelum tahap profesi.
Penguatan Kapasitas Dosen dan Etika Pemanfaatan AI
Sebagai bagian dari persiapan implementasi, FK UPI menyiapkan tahapan pelatihan bagi dosen dan mahasiswa yang mencakup pemanfaatan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) secara etis dalam pendidikan kedokteran. Fakultas juga menerapkan metode hybrid learning serta program Training of Trainers (ToT) bagi dosen agar materi informatika kesehatan terintegrasi dalam pembelajaran.
Ketua Medical Education Unit (MEU) mendapat mandat untuk menyusun pemetaan kurikulum guna mencegah tumpang tindih materi antarmata kuliah. Selain itu, FK UPI membahas penetapan narasumber ahli sebagai Adjunct Professor melalui Surat Keputusan (SK) resmi sebagai bagian dari penguatan jejaring akademik.
Diskusi ini juga mencatat meningkatnya minat mahasiswa terhadap riset perangkat kesehatan digital, termasuk wearable devices, yang sejalan dengan penguatan kompetensi analisis klinis berbasis data di Fakultas Kedokteran UPI.
Kontributor : Humas FK UPI/Ramdhan Nugraha



